Di tengah harga gas yang naik-turun dan rutinitas dapur yang makin padat, wajar kalau banyak ibu-ibu mencari cara masak yang lebih hemat tapi tetap berhasil. Dari dapur rumahan itulah lahir dan viral metode masak 5:30:7—teknik sederhana yang mengandalkan waktu dan panas sisa, bukan api besar terus-menerus.
Metode ini populer bukan karena ribet, tapi justru karena hemat gas, minim drama, dan hasilnya konsisten. Cocok untuk masakan rumahan seperti bubur, lontong, kacang-kacangan, sampai daging tertentu.
Metode 5:30:7 populer karena sederhana, logis, dan cocok untuk masakan rumahan Indonesia: tumisan, ungkep, semur, hingga lauk berkuah ringan. Artikel ini akan membahas apa itu metode 5:30:7, bagaimana cara kerjanya, kenapa banyak orang berhasil dengan metode ini, dan kenapa kamu sebaiknya mulai mencobanya di rumah.

Apa Itu Metode Masak 5:30:7?
Metode masak 5:30:7 adalah teknik memasak dengan menyalakan api hanya di awal dan akhir, sementara proses utama memanfaatkan panas sisa dalam panci tertutup.
- 5 menit pertama → masak hingga mendidih
- 30 menit berikutnya → api dimatikan, panci tetap tertutup
- 7 menit terakhir: api dinyalakan kembali untuk pematangan akhir
Yang membuat metode ini istimewa adalah api tidak menyala selama 30 menit penuh, inilah sumber utama penghematan gas.
Kenapa Metode 5:30:7 Bisa Hemat Gas?
Metode ini sebenarnya sangat masuk akal jika dilihat dari cara panas berpindah dan bekerja pada bahan makanan.
1. Memanfaatkan Panas Sisa (Residual Heat)
Setelah direbus 5 menit, panci, air, dan bahan sudah menyimpan panas tinggi. Saat api dimatikan dan panci ditutup, panas ini tidak langsung hilang, tapi terus bekerja mematangkan bahan.
👉 Gas mati, masakan tetap “jalan”.
2. Panci Tertutup = Uap Tidak Kabur
Saat panci ditutup rapat:
- Panas terperangkap
- Uap air bersirkulasi di dalam
- Suhu tetap stabil cukup lama
Ini membuat proses memasak tetap berlangsung tanpa tambahan energi.
3. Tidak Perlu Api Besar atau Lama
Banyak metode masak konvensional menyalakan api kecil tapi berjam-jam. Metode 5:30:7 justru:
- Api pendek tapi efektif
- Fokus pada efisiensi waktu nyala api
Hasilnya, penggunaan gas lebih terkendali.
4. Cocok untuk Bahan yang “Butuh Waktu”
Biji-bijian dan ketan seperti:
- kacang hijau
- kacang merah
- beras lontong
- ketan lupis
tidak butuh api terus-menerus, tapi butuh waktu. Metode ini menjawab kebutuhan itu tanpa boros gas.
Kalau Mamah sederhanakan:
- Air mendidih = panas tinggi
- Panci tertutup = panas tersimpan
- Waktu = pekerjaan diselesaikan pelan-pelan
Jadi bukan soal “api harus nyala lama”, tapi kapan api dinyalakan dan kapan dimatikan.
Kenapa Metode Ini Cocok untuk Dapur Ibu-Ibu?
Karena:
🔥 Gas tidak menyala lama
⏱️ Tidak perlu dijaga terus
😌 Masak lebih tenang
🔁 Hasil konsisten dan mudah diulang
🍲 Tidak perlu alat mahal
Metode ini memberi rasa “lega”: masakan tetap jalan walau api mati.
Kenapa Kamu Perlu Mencoba Metode 5:30:7 di Rumah?
Karena metode ini mengubah cara pandang memasak:
- Dari buru-buru → jadi sabar
- Dari sering diaduk → jadi percaya proses
- Dari “kira-kira” → jadi terstruktur
Metode 5:30:7 cocok untuk siapa saja—pemula, ibu rumah tangga, hingga yang sudah terbiasa masak tapi ingin hasil lebih konsisten. Ia tidak menuntut skill tinggi, hanya disiplin waktu dan api.
Kalau selama ini kamu sering merasa:
- Masakanmu “kurang nendang”
- Ayam sering keras
- Bumbu cepat gosong
Metode ini layak kamu coba setidaknya sekali. Metode masak 5:30:7 bukan cuma soal empuk atau cepat, tapi soal bijak menggunakan energi. Dengan mematikan api di waktu yang tepat, dapur jadi lebih hemat, tenang, dan efisien—tanpa mengorbankan hasil.
FAQ
Apakah metode 5:30:7 benar-benar hemat gas?
Ya. Karena api dimatikan selama 30 menit penuh, konsumsi gas jauh lebih rendah dibanding merebus terus-menerus.
Apakah masakan tetap matang saat api dimatikan?
Tetap. Panas sisa dan uap dalam panci tertutup terus mematangkan bahan.
Apakah semua panci bisa dipakai?
Bisa, selama panci punya tutup yang cukup rapat.
Apakah metode ini aman ditinggal?
Aman karena api dalam kondisi mati selama fase 30 menit.
Apakah metode 5:30:7 cocok untuk pemula?
Sangat cocok karena tidak membutuhkan teknik rumit atau feeling tinggi.
